Sab. Feb 21st, 2026

Pemkab Aceh Utara Salurkan 1.109 Sapi Meugang untuk Penyintas Banjir

blank

Aceh Utara – Tradisi meugang di Kecamatan Dewantara kembali berlangsung meriah menjelang Bulan Suci Ramadan 1447 Hijriah, Rabu (18 Februari 2026). Meskipun masyarakat baru saja terdampak banjir, semangat menyambut Ramadan tetap terasa kuat di tengah keterbatasan ekonomi.


Sebagai bentuk kepedulian kepada penyintas banjir, Pemerintah Kabupaten Aceh Utara menindaklanjuti petunjuk teknis dari Kementerian Dalam Negeri yang memperbolehkan bantuan sosial disalurkan dalam bentuk daging, bukan uang tunai.
Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jalil, yang akrab disapa Ayah Wa, menyampaikan bahwa anggaran sebesar Rp19,5 miliar dialokasikan untuk pembelian 1.109 ekor sapi guna memenuhi kebutuhan daging meugang bagi masyarakat terdampak banjir.


“Dengan skema ini, total sapi yang dapat dibeli mencapai 1.109 ekor. Artinya, 852 gampong akan mendapatkan minimal satu ekor sapi,” ujar Ayah Wa.

Ia menambahkan, mekanisme distribusi akan dikelola oleh kelompok masyarakat (Pokmas) di masing-masing gampong agar penyaluran berjalan merata dan tepat sasaran.


Di lapangan, suasana meugang tetap dipenuhi antusiasme warga. Sejak sehari sebelumnya, para pedagang telah mempersiapkan lapak dan meja jualan.

Pemerintah juga menyediakan lokasi khusus bagi pedagang daging di sisi utara, tepatnya di sepanjang rel kereta api, untuk mendukung kelancaran aktivitas jual beli.
Berdasarkan pantauan di Keude Krueng Geukueh, harga daging berkisar antara Rp170.000 hingga Rp180.000 per kilogram. Harga tersebut relatif stabil dibandingkan tahun sebelumnya. Warga tampak mengantre dan berdesakan untuk mendapatkan daging, yang menjadi hidangan utama dalam tradisi meugang.
Meski kondisi ekonomi masih dalam pemulihan pascabanjir, tradisi meugang tetap dijalankan sebagai bagian penting dari budaya Aceh. Warga membeli daging sesuai kemampuan, mulai dari satu kilogram, setengah kilogram, hingga beberapa ons.


Tradisi ini tidak hanya menjadi simbol persiapan menyambut Ramadan, tetapi juga mencerminkan ketahanan sosial dan semangat kebersamaan masyarakat Aceh dalam menghadapi berbagai ujian.[sb]

blank

By Redaksi

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *