BIREUEN – Apel Akbar eks kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) wilayah Batee Iliek digelar pada Sabtu, 26 Oktober 2024. Kegiatan yang berlangsung di lapangan sepak bola Geulumpang Payong, Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Bireuen ini dimaksudkan untuk memperlihatkan kepada publik bahwa GAM Bireuen masih satu komando, Senin (28/10/24)
Ribuan masyarakat turut hadir dalam acara tersebut, bersama dengan lebih dari tiga ribu eks pasukan GAM yang mendapat pengamanan ketat dari pihak kepolisian.
Sepanjang acara, Bendera Bulan Bintang tampak berkibar, tidak hanya di tiang panggung utama, tetapi juga dipegang oleh sejumlah mantan pasukan GAM yang hadir.
Dalam orasinya, Tgk. Darwis Jeunieb menyampaikan pesan agar masyarakat tidak mudah diperdaya oleh politik uang atau sogokan untuk memenangkan salah satu pasangan calon (paslon) dalam pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Bireuen, maupun Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh. “Menurut ajaran Islam, menerima uang sogok itu hukumnya haram,” tegasnya
Darwis turut mengajak masyarakat Aceh untuk memilih paslon Bupati dan Wakil Bupati Bireuen nomor urut 2, H. Husaini M. Amin dan Husaini, serta paslon Gubernur Aceh nomor urut 2, H. Muzakir Manaf dan Fadhullah.
Ia menekankan bahwa Muzakir Manaf memiliki kedekatan khusus dengan Presiden RI terpilih, Prabowo Subianto, yang diharapkan akan membawa dukungan penuh bagi APBN Aceh.
Menurut Darwis, Muzakir Manaf telah berjuang mendukung Prabowo dalam dua pilkada terakhir untuk menjadi Presiden RI. “Ini adalah perjuangan bersama demi kemajuan Aceh,” tambahnya
Tgk. Darwis juga menyoroti bahwa Apel Akbar ini merupakan momentum untuk memperjuangkan tanggung jawab yang belum selesai terkait butir-butir perjanjian antara Pemerintah RI dan GAM. “Kita meminta Presiden RI yang baru dilantik untuk menegakkan kembali poin-poin dalam MoU Helsinki sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati bersama,” katanya.
“Sebagai bagian dari GAM yang telah menandatangani perjanjian Helsinki, kita memiliki tanggung jawab besar untuk menyelesaikan butir-butir tersebut,” lanjutnya. Darwis mengingatkan bahwa perjanjian adalah janji yang harus ditepati. “Jika tidak sanggup menepati, sebaiknya jangan pernah membuat janji,” tegasnya.
Ia mengakhiri pernyataannya dengan menyinggung bahwa ketidakpatuhan terhadap janji sering kali menjadi pemicu konflik. “Kericuhan di mana-mana, bahkan perang, seringkali terjadi karena janji yang tidak ditepati. Jangan sampai kita tertipu lagi oleh janji kosong. Karena itu, kita kumpulkan silaturahmi ini untuk menunjukkan bahwa kita masih ada dan tetap solid,” pungkasnya.(Ms)

