Kam. Mei 28th, 2026

Catatan, 28 Mei 2026Lebaran, Toleransi, dan Kehidupan yang Berjalan Damai di Lhokseumawe

Mulai dari hari pertama hingga Lebaran kedua Idul Adha 1447 H, saya berkeliling di seputaran Kota Lhokseumawe. Suasana kota terlihat begitu tenang. Hampir seluruh toko tutup, aktivitas perdagangan melambat, dan jalanan tidak seramai hari-hari biasa.

Yang menarik perhatian saya adalah banyak toko yang turut tutup merupakan milik etnis Tionghoa yang sudah puluhan tahun menetap di Aceh, khususnya di Kota Lhokseumawe. Mulai dari toko emas, elektronik, hingga berbagai usaha lainnya ikut menghormati momentum Hari Raya Idul Adha dengan menutup aktivitas perdagangan mereka.

Bagi saya, ini bukan sekadar persoalan toko yang tutup. Ada nilai yang lebih besar di dalamnya, yaitu penghormatan terhadap budaya, kearifan lokal, dan kehidupan sosial masyarakat Aceh. Kehidupan berjalan berdampingan secara damai, saling menghormati, dan menempatkan toleransi bukan hanya sebagai slogan, tetapi sebagai praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Selama ini, kehidupan sosial di Kota Lhokseumawe juga berjalan harmonis. Masyarakat saling memahami ruang masing-masing, menjaga hubungan sosial dengan baik, dan hidup berdampingan tanpa rasa canggung terhadap perbedaan. Mungkin inilah salah satu keunikan Aceh. Di tengah kekhususan budaya dan aturan yang dimiliki, masyarakat tetap mampu menjaga rasa hormat, persaudaraan, dan kebersamaan dalam kehidupan sosial.

Semoga sikap toleransi seperti ini terus terjaga demi harmonisasi kehidupan berbangsa yang menjunjung tinggi budaya dan kearifan lokal. Karena pada akhirnya, kerukunan bukan hanya tentang hidup berdampingan, tetapi juga tentang bagaimana menjaga rasa saling menghargai sebagai sesama manusia.

Terima kasih kepada saudara-saudara etnis Tionghoa di Kota Lhokseumawe yang selama ini ikut menjaga kerukunan, menghormati tradisi masyarakat sekitar, dan menjadi bagian dari kehidupan sosial yang damai di Aceh. Sebab sejatinya, kita semua adalah sesama ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang dipertemukan untuk saling menghormati, bukan saling membenci.

Kadang-kadang, toleransi yang paling nyata bukan lahir dari pidato panjang, melainkan dari sikap sederhana: saling menghormati, menjaga perasaan, dan memahami bahwa perbedaan bukan alasan untuk hidup terpisah.

Sofyan, S.Sos |Pengamat Sosial

By Redaksi

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *