Sen. Apr 20th, 2026

Stunting yang di-Setting?

ACEH | Stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, yang ditandai dengan panjang atau tinggi badannya berada di bawah standar. Selain malnutrisi, kurangnya akses air bersih dan sanitasi yang buruk ternyata juga menjadi penyebab tingginya angka stunting di Indonesia. Menurut riset Kementerian Kesehatan (Kemkes), stunting yang disebabkan oleh tidak adanya air bersih dan sanitasi buruk mencapai 60 persen, sementara yang dikarenakan gizi buruk “hanya” 40 persen. Tak heran, kalau akses air bersih masuk sebagai salah satu tujuan dari Sustainable Development Goals (SDGs) dengan target tahun 2030.

Mengapa air bersih dan sanitasi menjadi faktor esensial dalam pencegahan stunting? Hubungan antara konsumsi air kotor dengan stunting terletak pada banyaknya mikroorganisme (seperti patogen dan bakteri E.coli) pada air kotor yang bila dikonsumsi dapat mengganggu sistem di tubuh manusia.

Beberapa penyakit yang mengintai di air kotor adalah diare dan cacingan. Anak yang sulit mendapatkan akses air bersih, misalnya, bisa mengalami diare berulang kali. Padahal, saat diare, ada banyak cairan dan mikronutrien (nutrisi penting) yang terbuang dari dalam tubuh anak. Zinc salah satunya. Saat tubuh kekurangan Zinc, maka usus yang terganggu fungsinya selama diare tidak bisa diregenerasi kembali. Berdasarkan penelitian, kekurangan zinc pada saat anak-anak dapat menyebabkan stunting dan terlambatnya kematangan fungsi seksual.

Air memiliki peran yang sangat penting dan menjadi kebutuhan dasar bagi manusia, mengingat hampir semua pekerjaan tergantung pada air. Oleh sebab itu, pemerintah berkewajiban memastikan masyarakat mencapai akses universal air bersih dan sanitasi higienis. Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) atau Sustainable Developemnet Goals (SDGs) terdiri atas 17 tujuan, 169 target, serta 241 indikator. Pada tujuan 6 yakni ketersediaan dan pengelolaan air dan sanitasi untuk semua pada 2030.

Tidak hanya pemerintah peran masyarakat juga sangat dibutuhkan untuk mengatasi permasalahan air dan sanitasi, karena jika air dan sanitasi menjadi terganggu akan mengakibatkan kesemua sektor kehidupan. ini adalah tantangan besar bagi Indonesia umumnya dan Aceh khususnya. Distribusi air tawar yang tidak merata, Pencemaran air yang semakin meningkat. Laju pertambahan dan perpindahan penduduk ke perkotaan yang cukup tinggi, Penggunaan lahan yang tidak memperhatikan konservasi tanah dan air, Pembangunan gedung-gedung di kota besar banyak yang tidak mematuhi perbandingan lahan terpakai dan lahan terbuka, sehingga mengganggu proses penyerapan air hujan ke dalam tanah, Eksploitasi air tanah yang berlebihan yang dilakukan oleh gedung-gedung perkantoran, rumah sakit, pusat perbelanjaan, apartemen.

Pemerintah harus mempercepat pembangunan tangki septik komunal terpadu di kawasan permukiman, perkantoran, industri IPAL terpusat berskala permukiman/kota/regional, infrastruktur pengolahan lumpur tinja, sistem penyediaan air minum (SPAM), serta mendorong pengelolaan sanitasi berbasis masyarakat sebagai bagian dari infrastruktur sistem pengelolaan air limbah domestik terpusat skala permukiman.

Pemerintah daerah harus menyiapkan lahan, menyusun dokumen rencana teknis secara terperinci, membangun sambungan perpipaan ke rumah, membentuk institusi pengelola pascakonstruksi, menyediakan biaya operasi dan pemeliharaan.

Pemerintah Daerah Provinsi Aceh khususnya harus konsen dan mengawasi dengan betul-betul permasalahan Stunting ini jangan hanya dengan membuat program-program saja kemudian menghabiskan anggaran negara yang cukup banyak tetapi angka Stunting masih belum terselesaikan juga. Belum lagi dengan video-video yang beredar luas di media sosial terkait makanan tambahan berupa mie instan yang dibagikan di posyandu. ini adalah bentuk ketidakseriusan pemerintah dalam menjalankan amanah untuk memberantas Stunting. Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Kementerian Kesehatan Tahun 2022. Diketahui Aceh merupakan provinsi dengan prevalensi stunting tertinggi kelima di Indonesia. Yakni mencapai hingga 31,2 persen.

Dengan kondisi seperti itu, maka perlunya masyarakat mendapatkan pengetahuan tentang air ini, atau dengan melakukan gerakan literasi air, karena tidak saja aksi nyata akan tetapi masyarakat harus dipahamkan juga mengenai pemahaman tentang air ini, literasi air ini harus masuk kesemua kelapisan masyarakat supaya masyarakat paham bagaimana memperlakukan air.misalnya dengan cara menghemat air, tidak membuang sampah ke sungai dan saluran air, melakukan penghijauan,dan penampungan air atau membuat biopori.

20 Desember 2023 terdapat sebuah peringatan yaitu Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN). Peringatan HKSN merupakan peringatan yang bertujuan untuk mengenang segala sesuatu tentang perjuangan membangun kesejahteraan sosial. Terdapat kata kesetiakawanan karena menggambarkan ungkapan rasa persaudaraan, solidaritas sesama kawan. Maka di momen ini mari kita jadikan sebagai Hari Pertama membangun kesadaran akan pentingnya air bersih dan mari kita ambil bagian dalam memberantas Stunting agar anak-anak kita,anak kawan-kawan kita, anak tetangga kita, saudara-saudara di lingkungan kita mendapatkan air yang bersih sehingga terbebas dari Stunting. 20 Desember 2023 juga merupakan momen-momen pemilu, sembari mengkampanyekan pemilu yang Jurdil mari juga kita mengkampanyekan akan pentingnya menjaga kualitas air dalam menunjang kehidupan di muka bumi. Mari kita ubah pertanyaan Stunting yang disetting menjadi penyataan Stunting kita Banting.

Penulis : Fauzan Yasir ( Mahasiswa Teknik Sipil Universitas Malikussaleh)

By Redaksi

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *