Sab. Apr 18th, 2026

Lailan Fajri Saidina sikapi prilaku kekerasan remaja di Lhokseumawe

Lailan Fajri Saidina ( Direktur Tanda Seru Indonesia )

Lhokseumawe- Lintas Info Rakyat, Menyikapi aksi kekerasan sekelompok Remaja dengan dibekali senjata tajam yang terjadi akhir akhir ini di Lhokseumawe, pemerhati perilaku yang juga Direktur konsultan psikologi & training Tandaseru Indonesia, Lailan Fajri Saidina, menduga hal itu sebagai salah satu bentuk pengaruh dari belajar sosial remaja, bisa itu dari game atau tontonan yg bernuansa kekerasan secara berulang ulang, sehingga terjadi konformitas, dimana seseorang mengubah perilaku individunya menjadi perilaku yang diterima kelompoknya.

Ini adalah bagian dari pengaruh kelompok terhadap individu. Jika diperhatikan dalam banyak kasus perkelahian antar kelompok, terutama diluar Aceh yg melibatkan remaja usia 15-19 th, ditemukan beberapa faktor penyebab perilaku konformitas, misalnya: pertama, ingin menghilangkan beban pelajaran atau melampiaskan kekesalan. Kedua, karna kesenangan, perkelahian dirasakan sebagai hal yg asyik, seru meskipun terluka. Ketiga, karna kesetiakawanan dlm satu kelompok, agar kehadirannya di klmpk tertentu diterima dan dihargai. 

Artinya pengaruh kelompok terhadap perilaku seseorang itu sangat kuat, bahkan seseorang akan meninggalkan norma individu meskipun baik ketika menjadi bagian dari kelompok dengan norma buruk sebagai identitas sosial.

Karna itu Lailan menghimbau agar orang tua, lingkungan pendidikan maupun masyarakat umum memahami gejala perubahan perilaku yang terjadi, terutama anaknya masing2, sekaligus meningkatkan rasa tanggungjawab sosial. 

Jika kita flashback, peristiwa kekerasan remaja dengan senjata tajam ini termasuk hal baru di Aceh khususnya Lhokseumawe, dan ini bisa jadi merupakan akumulasi perilaku dari apa yang berulang ulang dilihat dari sosial media, atau yg berulang ulang dimainkan melalui game sehingga muncul dorongan untuk mendapatkan sensasi nyata dengan perilaku serupa yang berulang ulang ditonton dan dimainkan.

Menurut Lailan Fajri Saidina, agar perilaku semacam ini tidak menular lebih luas, maka penting semua pihak mengantisipasi dari perubahan kecil perilaku remaja secara individu, baik di rumah maupun disekolah sebelum menjadi perilaku kelompok atau sosial. 

Peristiwa ini juga harus lebih memicu perhatian pemerintah daerah untuk menyediakan ruang ruang publik sebagai sarana saluran kreatifitas remaja, anak muda secara positif dan membangun. (*)

Penulis Lailan Fajri Saidina

(Pemerhati perilaku, direktur lembaga psikologi & training Tandaseru Indonesia)

By Redaksi

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *