Aceh Utara — Bupati Aceh Utara H. Ismail A. Jalil, S.E.,M.M atau akrab disapa Ayahwa menghentikan penampilan sesi akhir Apache pada Milad 800 Tahun Samudera Pasai, Ahad (13/9/2026) malam.
Keputusan itu diambil setelah kondisi di lapangan mulai kurang tertib. Sejumlah pengunjung terlihat menerobos pagar pembatas area laki-laki dan perempuan sehingga dinilai berpotensi menimbulkan pelanggaran terhadap ketentuan syariat Islam.
Juru Bicara Pemkab Aceh Utara, Muntasir Ramli, Selasa (15/9/2026), mengatakan penghentian tersebut merupakan langkah preventif untuk mengendalikan situasi sekaligus menjaga marwah Milad 800 Tahun Samudera Pasai.
“Ini bukan soal Apache. Keputusan diambil berdasarkan kondisi faktual dilapangan dan komitmen pemerintah menjaga ketertiban serta syariat Islam,” kata Muntasir.
Ia menegaskan, siapa pun yang tampil dalam kegiatan tersebut akan mendapat perlakuan yang sama apabila kondisi di lapangan tidak tertib dan berpotensi menimbulkan pelanggaran syariat.
“Yang dijaga Ayahwa adalah marwah dan tujuan besar Milad 800 Tahun Samudera Pasai. Ketika situasi berpotensi keluar dari koridor adat dan syariat, pemerintah harus mengambil langkah preventif,” ujarnya.
Ia mengatakan panitia sejak awal telah mengimbau masyarakat agar menjaga ketertiban selama kegiatan berlangsung. Hal itu dinilai penting mengingat jumlah pengunjung yang sangat besar.
Menurutnya, Milad 800 Tahun Samudera Pasai bukan sekadar agenda hiburan. Akan tetapi momentum mengangkat sejarah, peradaban Islam, adat dan identitas Samudera Pasai.
Selama tujuh hari tujuh malam, kegiatan diisi bazar UMKM, Rapai Pase, Rapai Uroh, kuliner, seni budaya, tilawah serta dakwah, pameran serta berbagai perlombaan.[sam]

