Sab. Jun 6th, 2026

Atap Makam Sultan Malikussaleh Rusak, DPRK Aceh Utara Minta Pemerintah Jangan Tutup Mata

Aceh Utara – Kondisi atap kompleks Makam Sultan Malikussaleh yang dilaporkan mengalami kerusakan mulai menuai perhatian. Ketua Komisi I DPRK Aceh Utara, Tajuddin, S.Sos, meminta pemerintah daerah melalui instansi terkait segera mengambil langkah perbaikan agar kerusakan tidak semakin parah.


Tajuddin mengaku baru menerima informasi mengenai kondisi makam pendiri Kesultanan Samudera Pasai tersebut. Menurutnya, situs bersejarah itu bukan sekadar tempat ziarah, melainkan salah satu ikon wisata dan peradaban yang dimiliki Aceh Utara.


“Kami baru mengetahui informasi terkait kerusakan atap Makam Sultan Malikussaleh. Kami sangat berharap ada tindak lanjut dan perbaikan segera dari dinas terkait, karena makam ini merupakan salah satu ikon wisata Kabupaten Aceh Utara,” kata Tajuddin, Jumat (5/6/2026).


Sebagai bentuk respons awal, Komisi I DPRK Aceh Utara berencana turun langsung ke lokasi untuk melihat kondisi riil serta tingkat kerusakan yang terjadi.


“Insya Allah kami akan turun ke lokasi untuk melihat langsung tingkat kerusakannya,” ujarnya.


Ia menegaskan, perhatian terhadap situs sejarah tidak boleh hanya muncul saat peringatan hari besar atau kegiatan seremonial semata. Menurutnya, pelestarian cagar budaya harus menjadi komitmen bersama agar warisan sejarah yang menjadi identitas daerah tetap terjaga.


Karena itu, DPRK terus mendorong Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Utara agar lebih serius dalam merawat dan melindungi berbagai situs bersejarah yang tersebar di wilayah tersebut.


“DPRK terus mendorong Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Utara untuk serius memperhatikan cagar budaya. Matee Aneuk Mupat Jrat, Matee Adat Hana Pat Mita,” tegasnya.


Tajuddin juga mengajak para pegiat sejarah, budayawan, akademisi, serta masyarakat untuk ikut mengambil peran dalam menjaga peninggalan bersejarah Aceh Utara. Menurutnya, pelestarian warisan leluhur tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah.


“Saya berharap bukan hanya pemerintah, tetapi juga para pegiat budaya untuk saling menguatkan. Mari kita ambil tanggung jawab sesuai peran dan tupoksi masing-masing. Aceh Utara yang bangkit adalah milik kita bersama,” katanya.


Makam Sultan Malikussaleh yang berada di Gampong Beuringen, Kecamatan Samudera, merupakan salah satu situs sejarah paling penting di Aceh. Selain menjadi destinasi wisata religi, kawasan tersebut juga menjadi saksi awal berkembangnya peradaban Islam di Nusantara melalui Kerajaan Samudera Pasai.


Kerusakan yang terjadi pada bagian atap makam kini memunculkan harapan agar pemerintah segera melakukan penanganan dan pemeliharaan yang lebih serius, sehingga salah satu warisan sejarah terbesar Aceh itu tetap terjaga untuk generasi mendatang.[sam]

By Redaksi

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *