Di Tengah Banjir Informasi, Lailan F. Saidina Ajak Guru Dayah Jadi Konselor Bagi Santri

Redaksi
By
3 Min Read

Bireuen – Pendiri Lembaga Psikologi dan Konsultan Training Tandaseru Indonesia, Lailan F. Saidina, mengajak guru dayah untuk memperkuat perannya sebagai pendidik sekaligus konselor bagi santri di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi digital.

Hal tersebut disampaikan Lailan dalam Pelatihan Pengembangan Kapasitas Guru Dayah yang berlangsung pada 5–6 Agustus 2026 di Yayasan Babussalam Bireuen.

Menurut Lailan, perkembangan teknologi telah mengubah lingkungan belajar dan kehidupan santri. Saat ini, santri dapat memperoleh informasi dalam jumlah sangat besar melalui internet dan media sosial.

“Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga perlu menjadi pendamping bagi santri. Di tengah informasi yang begitu berlimpah, santri membutuhkan sosok yang dapat membantu mereka memahami, menyaring, dan mengarahkan informasi tersebut agar memberi manfaat bagi kehidupannya,” ujar Lailan.

Ia menjelaskan, menjadi konselor bagi santri tidak berarti guru mengambil alih peran psikolog. Peran tersebut lebih pada kemampuan guru untuk mendengarkan, memahami, memberikan dukungan awal, serta menjadi tempat yang aman bagi santri ketika menghadapi persoalan.

Menurutnya, kedekatan guru dengan santri menjadi modal penting dalam proses tersebut. Guru yang mengenal santrinya akan lebih mudah melihat perubahan perilaku, memahami kesulitan yang sedang dihadapi, dan memberikan pendampingan sebelum persoalan berkembang menjadi lebih serius.

Lailan juga mengajak para guru mengubah cara pandang terhadap keberhasilan pembelajaran. Menurut dia, pendidikan di dayah tidak semestinya hanya berorientasi pada banyaknya materi yang dapat disampaikan kepada santri.

“Fokus mengajar bukan semata-mata mengejar jumlah pengetahuan yang harus tersampaikan. Yang jauh lebih penting adalah memastikan ilmu itu hidup pada diri santri dan hadir dalam kehidupan mereka,” katanya.

Ia menekankan, ilmu yang dipelajari santri seharusnya tercermin dalam cara berpikir, sikap, karakter, dan perilaku sehari-hari. Karena itu, guru perlu membantu santri menghubungkan apa yang mereka pelajari dengan realitas kehidupan.

Di era digital, posisi guru sebagai pendamping semakin penting karena guru bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan. Santri dapat menemukan berbagai informasi, pandangan, dan nilai dari beragam sumber dalam waktu singkat.

Karena itu, menurut Lailan, tugas guru bukan bersaing dengan internet dalam menyampaikan sebanyak mungkin informasi, melainkan membekali santri dengan kemampuan berpikir kritis, mengambil keputusan, memahami konsekuensi, serta menggunakan pengetahuan di dayah berdasarkan nilai-nilai yang mereka yakini.

Melalui penguatan peran sebagai pendidik dan pendamping, guru (Tgk.) diharapkan mampu membantu santri tidak hanya menjadi pribadi yang berpengetahuan, tetapi juga mampu menghidupkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari. (*)

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *